Praktisi ICT, Blogger, Wartawan dan Socmed diundang Pak Jokowi tanggal 2 Sep 2012 untuk ber-halal bi halal yang salah satu agendanya "Diskusi Pemanfaatan Teknologi ICT & Partisipasi Publik dalam Pembangunan Jakarta dengan Bapak Joko Widodo". Saya bukan bagian dari politik, tapi saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyalurkan aspirasi saya khususnya dan penikmat teknologi pada umumnya untuk pembangunan teknologi mandiri di Indonesia.
Dalam kolom pertanyaan yang terdapat dalam form yang didukung oleh Google Docs (lagi - lagi bukan produk dalam negeri), saya bertanya "Saya prihatin dengan perkembangan teknologi di Indonesia, menurut saya hampir 80% penikmat teknologi di Indonesia hanya sebatas penikmat, pekerja teknologi (yg dapat dianalogikan sebagai petani penggarap) dan hanya segelintir penikmat teknologi adalah pencipta teknologi itu sendiri. Saya tertarik untuk berpartisipasi membangun negeri ini dengan "pembangunan teknologi mandiri" melalui pembinaan dan mendukung para entrepreneur muda di Indonesia, setidaknya dengan mengapresiasi hasil ciptaan mereka kemudian mendayagunakan hasil ciptaan tersebut, membantu produksi dengan prosedur yang mudah dan biaya yang murah, malah kalau bisa gratis (agar tidak CLBK ke raksasa IT yang dapat menyediakan fasilitas secara gratis) dan membantu publikasinya untuk kepentingan penikmat teknologi di Indonesia dengan menargetkan pasar di Indonesia terlebih dahulu yang memiliki pangsa pasar yang besar sebelum terbukti berhasil dan laik untuk diekspor. Menurut saya pemerintah sebagai birokrat dan fasilitator bertanggungjawab dengan pembangunan teknologi mandiri ini. Apa tanggapan dari Pak Jokowi tentang pembangunan teknologi mandiri dari anak negeri yang mana membutuhkan waktu yang cukup, keberanian yang tinggi dan konsistensi untuk mengimplentasikannya? Bisakan Jakarta menjadi tolak ukur dan starting poin pembangunan ICT oleh anak negeri?"
Yuk, yang merasa ikut tergerak hatinya atau termasuk bagian dari IT ikut sumbang saran. Sayangnya undangan ini terbatas hanya untuk 100 orang saja. Tak apalah ya, good start :)
https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dGU3RXpOb1lZOEI5MFdSbGd0STNuQVE6MQ
Dalam kolom pertanyaan yang terdapat dalam form yang didukung oleh Google Docs (lagi - lagi bukan produk dalam negeri), saya bertanya "Saya prihatin dengan perkembangan teknologi di Indonesia, menurut saya hampir 80% penikmat teknologi di Indonesia hanya sebatas penikmat, pekerja teknologi (yg dapat dianalogikan sebagai petani penggarap) dan hanya segelintir penikmat teknologi adalah pencipta teknologi itu sendiri. Saya tertarik untuk berpartisipasi membangun negeri ini dengan "pembangunan teknologi mandiri" melalui pembinaan dan mendukung para entrepreneur muda di Indonesia, setidaknya dengan mengapresiasi hasil ciptaan mereka kemudian mendayagunakan hasil ciptaan tersebut, membantu produksi dengan prosedur yang mudah dan biaya yang murah, malah kalau bisa gratis (agar tidak CLBK ke raksasa IT yang dapat menyediakan fasilitas secara gratis) dan membantu publikasinya untuk kepentingan penikmat teknologi di Indonesia dengan menargetkan pasar di Indonesia terlebih dahulu yang memiliki pangsa pasar yang besar sebelum terbukti berhasil dan laik untuk diekspor. Menurut saya pemerintah sebagai birokrat dan fasilitator bertanggungjawab dengan pembangunan teknologi mandiri ini. Apa tanggapan dari Pak Jokowi tentang pembangunan teknologi mandiri dari anak negeri yang mana membutuhkan waktu yang cukup, keberanian yang tinggi dan konsistensi untuk mengimplentasikannya? Bisakan Jakarta menjadi tolak ukur dan starting poin pembangunan ICT oleh anak negeri?"
Yuk, yang merasa ikut tergerak hatinya atau termasuk bagian dari IT ikut sumbang saran. Sayangnya undangan ini terbatas hanya untuk 100 orang saja. Tak apalah ya, good start :)
https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dGU3RXpOb1lZOEI5MFdSbGd0STNuQVE6MQ






0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.